[Eksklusif] Sayang, Inilah yang Harus Kau Tukar untuk Sebuah Pertemuan

Tahun 2011 saat itu saya harus berdampingan dengan lawan terbesarku. Suatu hal yang tidak dapat kuhindari dan di lain sisi pun tidak dapat kulawan walaupun telah usaha habis-habisan. Kemungkinan sebenarnya tidak cuma saya, justru kurasa seorang preman kelas kakap akan kekurangan tenaga untuk menantangnya, karena ini bukanlah sebuah hal yang dapat ditangani cukup dengan nalar tetapi harus mengikutsertakan hati.

Kembali lagi, brengseknya, berapa kuatpun kulampiaskan ini, tidak akan habis dia. Dia akan makin tumbuh, berkembang, beranak pinak dan terkadang mengusik dalam pulas.

Sampai sini bisa menerka figur siapakah yang kubicarakan ini?

Namanya kangen. Dia dapat menjelma jadi apa, sering jadi hati yang susah dibahas dengan kalimat tapi dapat memengaruhi perilaku.

Tahun 2011, teman dekat baikku ialah jalinan jarak jauh yang meskipun tidak berapa tetapi tetap tumbuh setiap tatap muka itu usai. Sempat kusebut dia sebagai hal yang brengsek, sebab bagaimana tidak? Makin kangen, makin ingin berjumpa, dan sesudah berjumpa, kangen ini tidak raib, bahkan juga dia bertambah kembali.

Menahun kupelihara kangen, cuman kadang-kadang kusampaikan pada pemiliknya. Ini bukanlah hal siapakah yang lebih berani berbicara, tetapi mengenai begitu berbesar kepala dia jika nanti Dia pada akhirnya tahu jika hati yang kurawat ini jauh semakin besar dari apa saja yang dia sangka-sangka.
luruhan artikel terbatas ini dengan login lebih dulu di Hipwee.

Masuk dengan account Hipwee Masuk dengan Facebook Belum Punyai Account? Masuk Saat ini Kembali Masuk Account
Ingat Saya Lupa Kata Kode? Masuk Belum Punyai Account ? Daftar Di sini

“Saya iri, di sini banyak pasangan. Ada yang baru sampai sini, telah diikuti oleh pacarnya, bahkan juga terkadang istrinya yang membawa juga anaknya.”

“Berani sekali mereka.”

“Itu, saya mengharap kamu lakukan hal sama. Toh cinta yang kamu alami dan kangen yang kamu taruh, saya percaya semakin besar dibanding mereka.”

“Jika saya pergi saat ini, keluargaku tentu berduka. Saya tidak berani mengganti air mata mereka untuk cuman berjumpa denganmu melepaskan kangen.”