Tuhan, Bila Cinta Ini Memang Tak Bisa Kau Satukan, Mengapa Perasaan ini Masih Kau Biarkan Bersemayam?

Kembali dan kembali, perkenankan saya untuk mengadu padamu, Tuhan. Cuman padamu saya dapat mengadu tanpa perlu malu atau takut dicerca. Cuman padamu, saya dapat meluapkan semua kegundahan hati yang makin menggigit ini. Saya tidak paham jalan keluarnya, dan sebagai pembuat segala hal, saya percaya Tuhan punyai jalan keluarnya.

Tuhanku, begitu rumitnya sebuah rasa yang namanya cinta. Atau mungkin sesungguhnya kami saja, sebagai manusia, yang ahli merumitkan segala hal? Berkenaan cinta, demikian beberapa hal yang tidak saya ketahui, ya Tuhan. Kegundahan ini telah menghantui saya lama. Kegundahan yang membuat saya berasa tidak nyaman untuk mengambil langkah, karena apa yang ketinggalan ada di belakang selalu mengikut tapak jejak saya. Oh Tuhan, jika memang saya dan ia tidak dapat bersama, kenapa demikian susahnya buat saya mengikhlaskan semua?

Bila saya hitung-hitung, rasa ini telah mengendap sekian tahun. Masih saya ingat terang kenangan-kenangan cantik yang dahulu saya lalui dengannya. Saat ini, semua tinggal masa lalu. Ia telah telusuri jalan yang lain, dan mungkin, telah mendapati orang yang lain. Tetapi Tuhan, kata orang waktu akan mengobati. Tetapi kenapa, sesudah selama ini, hati saya tetap sama?

Saya ketahui jika segala hal sekarang sudah berlainan. Apa yang saya kenang-kenang ialah sisi dari pemikiran mengenai masa lampau yang mustahil terulang lagi. Saya pun tidak sedang menipu diri kita, segala hal cuman mimpi, dan sekarang ini ia masih ada disamping saya. Jika kami masih merajut cinta dengan sejuta berbahagia. Saya ketahui segala hal usai sudah. Saya juga paham, jika sekarang ini, sama dengan dianya, saya semestinya mulai bergerak buka helaian baru.

Tetapi Tuhan, kenapa terima kondisi sebegini susahnya?

Berulang-kali saya sempat membaca sebuah pendatan. Jika kita cuman memerlukan waktu dua menit untuk jatuh hati, tetapi mungkin kita memerlukan waktu sepanjang umur untuk melupakannya. Sampai sekarang ini saya merasakannya sendiri, saya tidak pernah yakin. Saya berpikir, bila saya telah terima fakta jika kami telah pisah, lalu nalar saya akan membuat saya automatis lupakan dianya. Tetapi Tuhan, sekarang saya betul-betul memahami, jika sisi paling susah dari menyukai seorang ialah melupakannya.